Sering kali saya melihat orang-orang mengucapkan ini itu hanya karena formalitas, bukan karena disertai dengan niat tulus atau arti yang mendalam. Padahal menurut saya, setiap kata yang ada itu diciptakan dan ada untuk membantu kita mengungkapkan apa yang kita rasakan, apa yang kita pikirkan. Namun sayangnya, akhir-akhir ini saya lihat kata-kata dirangkai lebih untuk menyajikan apa yang orang lain inginkan untuk didengar/dibaca, daripada untuk mengungkapkan yang sebenarnya ada di pikiran dan hati.
Hal yang paling sering dan mudah kita lihat adalah dalam ucapan “selamat ulang tahun”. Banyak diantara mereka yang mengucapkan itu hanya karena sebuah formalitas. Formalitas karena mereka tahu orang tersebut sedang berulang tahun (mungkin karena muncul di notifikasi Facebook), atau juga formalitas karena yang bersangkutan “woro-woro” akan ulang tahunnya. Saya pribadi meskipun tahu seseorang itu berulang tahun, jika saya merasa tidak cukup kenal, maka saya tidak akan repot-repot untuk beformalitas memberikan ucapan. Saya tidak keberatan dibilang berhati dingin. Karena saya sendiri pun lebih memilih untuk mendapat ucapan ulang tahun dari mereka yang memang benar-benar tahu itu hari ulang tahun saya karena mereka ingat, daripada notifikasi konyol lewat social media. Dan saya pun lebih menghargai mereka yang mengucapkan hanya sekedar “Selamat ulang tahun!” tanpa disertai doa ini itu (yang biasanya penuh omong kosong pula) asal mereka benar-benar ingin menyampaikannya.
Selain ucapan ulang tahun, ucapan lain yang sering diucapkan orang lain tanpa disertai dengan arti dari kata tersebut dalam pengucapannya adalah ucapan kata “maaf”.
Bukan rahasia umum jika sekarang orang mudah sekali berkata maaf bahkan tanpa tahu apa yang telah diperbuatnya. Ya, orang berkata maaf hanya agar permasalahan cepat selesai saja. Padahal kata maaf itu sendiri seharusnya diucapkan dengan sebuah kesadaran atas kesalahan yang telah diperbuat. Jika anda tidak pernah merasa berbuat salah, lalu apa gunanya anda berkata maaf? Jika anda mampu berkata maaf tanpa mengerti apa salah anda dan hanya agar masalah cepat selesai, apa bedanya anda dengan orang yang menyogok birokrasi? Sama-sama tidak mau berpikir panjang dan mau agar urusan cepat selesai kan?
Karena sesungguhnya yang terpenting adalah bukan mendengar kata “maaf” itu sendiri, melainkan orang yang bersalah tersebut mengetahui salah yang telah diperbuatnya. Cukup menyesalinya, dan hingga akhirnya terlontar kata “maaf” sebagai pengungkapan atas apa yang dirasakannya tersebut.
Ucapan ulang tahun dan kata maaf tanpa disertai arti sudah cukup umum dan hanya membuat saya menaikan sebelah ujung bibir saya. Ya, tersenyum sinis. Dari sekian ucapan formalitas tersebut yang saya kurang suka adalah pengucapan “turut berduka cita”. Klise, penuh formalitas tanpa benar-benar disertai oleh rasa duka. Menurut saya, pengucapan “turut berduka cita” hanya akan membuat yang ditinggalkan menjadi semakin sedih. Membuka kembali hal sedih yang seharusnya mereka simpan saja dahulu dan baru buka kembali ketika mereka memang sudah cukup kuat untuk mengenangnya lagi.
Kata-kata tambahan semacam “yang tabah ya” atau “beliau telah berada di tempat yang terbaik” juga bukan pilihan yang terbaik menurut saya. Hanya kata-kata pemanis yang tidak perlu.
“Yang tabah ya”, for God sake, mau ataupun tidak yang ditiggalkan ini juga sedang berusaha tabah, suka atau tidak suka. “Beliau telah berada di tempat yang terbaik”, geez.. are you a God? Darimana kau tahu jika itu adalah tempat yang terbaik? Percaya atau tidak, kata-kata manis seperti itu hanya membuat yang ditinggalkan menjadi semakin larut dalam kesedihannya.
Saya memang kurang mampu dalam menyikapi keadaan sedih seperti itu. Hal yang pernah saya lakukan hanyalah diam dan menemani yang sedang berkabung. Saya berusaha sebisa mungkin tidak bertanya dan tidak berkata apa pun tentang yang bersangkutan karena saya tidak mau membuat yang ditinggalkan menjadi semakin bersedih. Saya tidak tahu apakah itu berguna, tapi yang saya tahu saya tulus melakukannya.
Saya tidak peduli jika orang menganggap saya tidak mempunyai hati hanya karena tidak suka dengan ucapan formalitas itu. Karena buat saya yang terpenting adalah ucapan tersebut sebagai ungkapan atas apa yang ada di dalam hati atau pikiran, bukan karena “harus” mengucapkannya sebagai formalitas semata. Contoh mudah, anda tentunya tidak ingin pasangan anda mengucapkan “Aku cinta padamu” itu sebagai formalitas karena dia pasangan anda kan?

Posted by dwymonster on 09/01/2012 at 9:35 am
Sama kayak aku. Aku juga biasanya diem kalo ditempat orang yang berkabung, sekedar menemani dan tidak berkata apa-apa karena aku ga tau harus berkata apa. Takut salah omong dan menambah kesedihan keluarga yang di tinggalkan.
Posted by sibair on 09/01/2012 at 4:06 pm
selamat ulang tahun ya.. *ini basa-basi aja bukan basa-basi banget* *dan rasanya garing banget* nice post..
Posted by diangga on 14/01/2012 at 11:42 am
trus lek bikin reminder di hp..abis tu kalo reminder bunyi kita baru sms ke orgnya piye??
masuk kategori mana tuh,,masa formalitas pisan,,padahal kita emang berusaha buat niat ngucapin looo..=P