Lembaran uang untuk siapa?

Malam minggu kemarin (14 Nov 2009) saya iseng keluar ke Citras bersama salah satu sahabat saya, mencoba menjadi anak gaul sedikit. Yah, mumpung umur masi mencukupi.  Hehe. Awalnya tak ada niat untuk menjadi anak gaul, cuma berniat mencari makanan pengisi perut saat jam 9 (dimana pedagang makanan sudah bersiap untuk menutup dagangannya) di kawasan Kertajaya, Surabaya. Dan berhubung disana hanya ada anak gaul yg sedang nongkrong, jadilah saya merasa menjadi gaul juga. Hoho .

Oke, poinnya kali ini bukan tentang seberapa gaul ato apalah. Yang ingin saya sampaikan ini tentang banyaknya pengamen dan pengemis yang mendatangi kami. Kalau dihitung, mungkin lebih dari 3x meja kami di datangi mereka, padahal pesanan kami pun belum juga datang! Jadi ya silakan kira2 sendirilah berapa kali meja kami mendapat “tamu” seperti itu selama kami berada disana.

Yang membuat saya sedikit kaget adalah ketika meja kami mendapat seorang “tamu” anak kecil yang membawa majalah t**po dan menawarkannya pada kami. Jujur, awalnya saya cukup tertarik untuk membelinya karena saat saya lirik bahasan topiknya cukup menarik. Tapi niat itu langsung hilang ketika anak itu kemudian berkata “Mbak, dibeli ya. Saya belom makan dari pagi”. Saya lalu melihat mukanya, segar bugar! Dan kemudian dia berkata lagi “ayo ya mbak ya”, dengan nada sedikit memaksa. Teman saya dengan halus langsung berkata “engga dek”. Dan kemudian dia berlalu meninggalkan meja kami.

Bukan suatu kejadian yg cukup hebat, dan bisa dibilang cukup umum sebenarnya. Saat kita sedang makan di pinggir jalan atau warung tenda pasti ada pengamen, ‘pengemis’, ato penjaja apa pun juga yg berseliweran. Suatu rahasia umum di Surabaya, bahkan di kota lain juga tentunya (tapi sepertinya Jakarta sudah bebas hal seperti ini dengan larangan memberi sedekah bagi pengemis, semoga Surabaya juga cepat begitu). Dan bukan salah “tamu” itu jika mendatangi kita, karena mereka memang sedang berusaha mencari sesuap nasi.

Oke, kembali ke fokus utama tadi. Anak kecil yg sedikit memaksa itu membuat saya teringat cerita salah seorang teman saya, Satria.  Dia bercerita pada saya kalau dia melihat ada seorang pengendara motor yang memberikan selembar uang berwarna biru kepada penjual koran yg sudah berusia lanjut lalu pengendara motor itu kabur begitu saja tanpa membawa korannya. Sementara itu penjual koran itu cuma bisa melongo krn dia tidak sempat memberikan korannya kepada si pembeli yg kabur itu, dan mungkin juga krn lembaran uang berwarna biru yang dia terima itu.

Cerita lainnya datang dari sahabat saya yg bersama saya ke citras, Anisa. saat di kawasan Pucang, Surabaya dia melihat anak kecil (bahkan menurutnya lebih kecil dr anak yg mendatangi meja kami dgn pasang tampang [sok] memelas itu) sedang menjual koran, dan dia kemudian mendatangi anak itu, “dek, ini kakak kasi buat adek”, lalu dia beranjak pergi. Kaget? Jelas, pasti anak itu kaget. Tapi yg terjadi selanjutnya anak itu mengejar teman saya itu, dan memberikan koran yg dia jual kepada teman saya. “mbak, ini korannya ketinggalan”, ujarnya sambil menyerahkan koran itu kepada teman saya. “ga usah dek, adek bwa aja korannya.” jawab teman saya itu sambil menaiki motornya, bersiap pergi dari situ. “tapi saya bukan minta2 mbak, saya memang jualan. ini mbak bawa ya”. Lalu anak kecil itu menyelipkan korannya di jok motor teman saya itu dan langsung kabur begitu saja.

Sudah mengerti maksud pembicaraan saya? Perbedaan antara yg mana yg sebenarnya layak diberi dan tidak. Oke, kalau belum ngeh juga akan saya perjelas.

Yang saya alami di Citras kemarin malam, semua yg saya temui itu tidak layak mendapat “uang lebih” dari pengunjung Citras. Mengapa? Karena mereka memang bisa dikatakan ‘malas’. Seperti meminta-minta misalnya, bukankah lebih baik mereka bekerja saja? Pemulung saja masih bisa dibilang bekerja! Dia mencari sesuatu yg bisa dia tukarkan kembali demi mendapatkan uang. Dan bagaimana dengan pengamen? Jujur, saya hanya simpati dengan sebagian kecil dari mereka. Itu pun bisa dilihat kesungguhannya dari cara mereka mengamen loh! Jika menyanyi asal-asalan dan volume kencang dengan tujuan agar pendengarnya risih lalu cepat2 memberi sedekah tentunya kita tau jika niat dia bernyanyi/mengamen bukan menghibur, tapi untuk mengancam kesehatan telinga kita. Beri aku uang, maka aku akan pergi dan telinga anda tidak lagi terancam.

Lalu bagaimana dengan anak kecil di Citras itu? Oh, dia pun sama saja. Saya yakin dia sebenarnya sudah makan sebelum menajajakan korannya itu. Mukanya terlihat segar sekali, sungguh tak mungkin jika dia belum makan dr pagi. Suaranya pun terdengar masi jelas.

Saya jauh lebih menghargai yg ditemui teman2 saya itu. Mereka tak mau menjadi “parasit” bagi orang lain dengan menyuruh mereka menyisihkan uang receh mereka yg di kantong untuk dirinya. Mereka bekerja, bukan meminta belas kasihan orang lain.

Lalu bagaimana memberi mereka jika mereka tidak mau diberi? Gampang, beri saja lembaran 50rb lalu bilang “kembalinya kamu simpen aja ya” dan tetap ambillah yg dia jual itu. Mungkin dia akan kaget, dan bbrp dari mereka tetap nekat memberi kembalian. Tapi yang jelas mereka tidak mungkin menolak pemberian uang kembalian yg berlebih itu. Bisa dibilang itu hak mereka kan, krn uang itu telah diserahkan untuknya dan mereka tentunya BUTUH uang itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s