Seharusnya bukan jadi aksesoris pemanis.

Sebelum saya menulis semuanya dan sebelum anda membaca post saya kali ini, saya sebelumnya meminta maaf apabila post ini terkesan “menyerang” maupun “menusuk” hingga akhirnya kurang berkenan di hati anda. Karena saya sadar, tulisan saya kali ini akan cukup menuai kritik serta pro-kontra.

Sebelumnya saya sadar kalau saya bukan lah seorang yang bisa dikatakan “alim”, bahkan saya jauh dari kata itu. Namun karena sisi ketidak-alim-an saya ini lah mungkin yang akhirnya menimbulkan berbagai pikiran tentang hal-hal yang sekiranya masih tampak pantas dilakukan oleh orang yg tidak terkesan alim (bahkan jauh dr alim), dan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh orang yang tampak dan terkesan alim.

Oke, saya tau anda mulai bingung. Saya akan memberi satu contoh kecil. Pernahkah anda melihat seorang wanita yang dibonceng seorang pria dan dia memeluk si pria dengan sangat erat, padahal kecepatan mereka tidak cukup kencang? Saya yakin jawabannya pasti “Pernah” atau mungkin malah “Sering”. Hal seperti ini memang bukan pemandangan yang langka, terutama untuk Surabaya, salah satu dari kota besar di Indonesia. Sebenarnya cukup memalukan untuk ukuran di Indonesia, jika mengingat Indonesia yang selalu membanggakan dan menjunjung adat ketimurannya. Namun, hell yeah, ini lah hidup. Segala sesuatu berubah, norma bergeser, dan akhirnya pemandangan seperti itu tampak biasa saja layaknya kita melihat pedagang kaki lima di trotoar jalan.

Mari kita kembali ke masalah tadi. Saat kita melihat pemandangan seperti tadi mungkin beberapa orang akan berpikir “Oh ayolah, dengan kecepatan segitu ngga mungkin jatuh kan? Jadi buat apa meluk kenceng banget gitu?” atau yang semacamnya. Ya, hal itu dapat memicu sedikit cibiran kecil yang terungkapkan dengan pelan atau bahkan terkadang hanya dalam hati.

Lalu, pernahkah anda melihat pemandangan seperti itu namun si wanita menggunakan jilbab? Saya yakin, jawabannya pasti “Pernah”, karena saya sendiri cukup sering melihatnya. Dan jika wanita yang tidak mengenakan jilbab saja dapat memicu orang lain mengeluarkan cibiran kecil, bagaimana dengan yang mengenakannya? Saya yakin pasti akan muncul cibiran yang lebih lagi dan itu bisa menyangkut tentang agama Islam. Bukankah begitu?

Saya akan memberi satu contoh kecil lagi yang cukup banyak terjadi. Kebetulan, saya menemukan pemandangan ini lagi kemarin (17 Oktober 2010) di DBL Arena Surabaya saat saya sedang menyaksikan pertandingan bola basket nasional, NBL Indonesia, bersama Riza Prasetya dan Dwi Antoko, dua kawan saya selama kuliah. Kami menyaksikan pertandingan selayaknya suporter olahraga lainnya yang berkali-kali meneriakkan nama pemain kesayangannya dan tim jagoannya sebagai bentuk dukungan dan memberi semangat. Namun ternyata ada dua orang “suporter” yang duduk tepat di depan saya yang menunjukan bentuk dukungannya dalam bentuk lain, yaitu keromantisan di muka umum.

Yeah, dimana orang lain sibuk memberi dukungan dan semangat pada tim kesayangannya dengan teriakan dan tepuk tangan, “suporter” wanita yang berada di depan saya itu sibuk merapat pada “suporter” pria dan kemudian dia menyandarkan kepalanya di bahu “suporter” pria itu tadi. Dan kemudian posisi dua “suporter” kita ini pun tak mengalami perubahan. Tak ada gerakan antusias sedikitpun meski pertandingan berjalan semakin memanas. Entah, mungkin mereka sendiri pun semakin “memanas” hingga akhirnya tidak ada lagi ekspresi yang dapat dicurahkan pada pertandingan.

Sebenarnya yang cukup mengganggu saya bukan hanya “pamer keromantisan”-nya ini saja. Namun kenyataan jika suporter wanita itu mengenakan jilbab lah yang membuat saya sangat terganggu. Mungkin jika dia tidak berjilbab saya hanya akan tersenyum biasa dan bukannya tersenyum sinis sambil mencibirnya dalam hati.

Mengapa saya mencibirnya? Yah, karena menurut saya kelakuan dia secara tidak langsung telah mencoreng agama dan membuat Jilbab itu tampak remeh. Seakan-akan jilbab itu hanyalah aksesoris pemanis yang diperuntukan untuk kaum hawa layaknya bando, jepit rambut, dsb. Aksesoris pemanis yang menciptakan kedok “anak baik” atau “alim” dibalik kemunafikannya.

Menurut saya, seorang wanita yang mengenakan jilbab adalah cermin seorang wanita sholehah yang seharusnya dijadikan panutan dan contoh bagi wanita-wanita yang jauh dr kesan “alim” seperti saya. Namun dengan adanya wanita berjilbab yang asal-asalan dan angin-anginan ini malah menciptakan image negatif dan buruk hingga akhirnya saya (dan mungkin beberapa orang lain juga) tidak lagi bersimpati pada mereka, bahkan mungkin menganggap mereka lebih buruk dari yang tidak berjilbab.

Sebenarnya, daripada mengenakan jilbab dengan niat yang hanya setengah-setengah dan membuat citra yang buruk serta menimbulkan cibiran kecil seperti tadi, saya rasa lebih baik jilbab itu dilepas saja. Karena jilbab bukan aksesoris pemanis sbg bentuk gaya atau gaul dan demi mengikuti trend, tapi suatu tanda bahwa dia adalah wanita sholehah yang layak menjadi contoh bagi wanita lainnya baik dalam perilaku sehari-hari yang tergolong remeh, maupun dalam hal yang berbau agama.

Semoga apa yang saya tulis dapat menjadi instropeksi bagi teman-teman semuanya, terutama bagi teman-teman yang akan ataupun sudah mengenakan jilbab. Seharusnya wanita berjilbab yang melakukan hal-hal seperti yang saya sebutkan diatas malu karena mendapat kritik dari seseorang yang jauh dari kata “alim” seperti saya. Dan jika ada yang bertanya-tanya “mengapa saya tidak memutuskan untuk mengenakan jilbab?”, jawabannya adalah karena saat ini saya masih belum dapat dan belum memiliki kesiapan untuk menanggung semua kewajiban yang ditanggung oleh wanita berjilbab yang seharusnya. Dan tentunya jika tanpa kesiapan seperti ini saya memaksa atau dipaksa untuk mengenakan jilbab, saya mungkin akan berakhir seperti wanita-wanita berjilbab yang angin-anginan itu tadi.

Dan satu hal yang pasti, saya tidak akan mau menjadi orang atau pribadi yang saya sendiri tidak pernah suka atau malah mungkin saya benci.

Advertisements

3 thoughts on “Seharusnya bukan jadi aksesoris pemanis.

  1. seperti orang khotbah bla..bla..bla.., tp tdk menjalankan,,, membuat org memandang remeh suatu kebaikan…
    ada juga mbak, org menyampaikan kebaikan tp tidak sopan, jadi mengurangi rasa hormat org thdp kebaikan itu sendiri…*biasane ibu2 sing muka’e galak2 iko..hehe
    Hmmm… sisi lain mbak shelly yang baru saya tahu..
    saya mulai ngefans jadinya…

    1. Oh itu emang khotbah kok. Khusus buat orang-orang yang ngerasa gitu sih. Bukan menyampaikan kebaikan atau apa juga.

      1. bukan soal tulisan di atas kakakQ… org yg spt tulisan d atas bagaikan komen saya yg di atas…
        saya aja sbg cow (mdh2an begitu..wkwwk) aja risih liatnya pa lagi sampean,,, terus terang saya juga bkn org “alim” ,,, 🙂
        saya suka tulisan2 di “Another Shit Talks”..
        like this blog pokokeh…
        pa lagi yg “Formalitas ucapan omong kosong”, “fenomena org kota” dll… kaya org di tabok..*pok..pok..pok.. “rasanya, sampe sini..”
        sering2 share pemikiran, saya akan jd pembaca setia 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s