Pray for Indonesia and please don’t take advantages of our sadness!

Indonesia kali ini memang sedang dilanda berbagai macam musibah di saat yang bersamaan. Banjir, gunung meletus, gempa, tsunami. But hey, what could we do? The only thing that we could do is pray and do charity for the victims.

Dan ditengah maraknya gerakan mengumpulkan bantuan untuk korban bencana ini pun tak sedikit pihak2 yang berusaha mencari untung dan sedikit mencari muka pada masyarakat.

Let’s say beberapa artis ibu kota yang tersorot media televisi sedang melakukan bantuan secara langsung ke lokasi bencana. Mungkin beberapa orang ada yang berfikir dan menganggap “Oh c’mon, cari muka ke publik ya?”. Mungkin beberapa dari artis ibu kota tersebut ada yang bertujuan untuk menarik simpati masyarakat. Tapi ayolah, sekalipun mereka ikhlas mereka tentunya tidak bs melepaskan diri dari para paparazi gila yang terus menguntit kemana mereka pergi itu kan? Jadi sorotan media itu bukan semata2 keinginan para artis itu. Para paparazi yang setia menguntit mereka ini pun juga berhak memburu berita tentang mereka demi kelangsungan hidup mereka, karena itu memang mata pencaharian mereka kan? Terlepas dari ikhlas atau tidaknya, paling tidak mereka turut menyumbang, dan meringankan beban korban2 bencana.

Sebenarnya yang patut dipikirkan justru pihak2 penyalur bantuan bencana ini. Apakah mereka cukup bertanggung jawab untuk menyalurkan seluruh bantuan yang diberikan oleh masyarakat langsung kepada para korban? Apakah mereka tidak memiliki motif tersendiri yang terselubung dibalik kedok sumbangan bencana yang mereka bilang?

Beberapa pihak tak bertanggung jawab tentunya tidak segan2 untuk mengaku bahwa dirinya utusan dari sebuah LSM atau organisasi tertentu yang ingin membantu masyarakat untuk menyalurkan bantuan dana kepada para korban bencana, padahal mereka memanfaatkan simpati masyarakat ini untuk kepentingan pribadi mereka. Seperti misalnya, mereka membawa kabur bantuan yang mereka terima dan tidak menyerahkannya pada yang seharusnya berhak menerimanya.

Dan akhir2 ini marak pula sebuah account twitter @IndonesiaBerdoa yang mengatasnamakan bantuan untuk korban bencana sebesar 25 IDR bagi tiap follower mereka. Kalian boleh bilang saya skeptis, karena saya sedikit banyak merasa seperti itu :D. Tapi memang terlalu banyak celah yang aneh dalam charity yang mereka tawarkan ini.

Yang menjadi pertanyaan knp harus 1 follower = 25 IDR? Jika memang berniat menyumbang mengapa tidak memberikan sumbangannya begitu saja? Apalagi sumber dana nya hanya dari tabungan salah satu pihak pribadi saja. Mengapa harus menunggu ada follower dulu baru menyumbang? Menunggu jumlah follower hingga berapa agar sumbangan diserahkan pada korban bencana?

Jika memang ada proses bisnis yg membuat 1 follower bernilai 25 IDR, mungkin saya bisa menerima. Karena itu berarti tiap user yg pernah follow akan terhitung menyumbang 25 IDR meski kemudian dia unfollow account tsb. Tapi jika hanya berdasarkan dr followers count, maka nantinya akan timbul kasus dimana ketika sumbangan #1 telah disumbangkan bagai mana untuk menghitung nominal dr jumlah followers pada keesokan harinya? Apakah dia akan dianggap tak bernilai krn sumbangan telah diberikan? Tetapi tentunya dia berhak dihargai 25 IDR krn telah turut serta dlm kegiatan tsb. Lalu bagaimana penanggulangannya? Apakah mencatat jumlah followers terakhir pada saat jumlah sumbangan #1 diberikan dan kemudian nantinya jumlah followers padah sumbangan #2 akan dikurangi dengan pd saat jumlah followers #1 untuk menentukan nominal yg diserahkan? Oh, c’mon. That’s silly!

Lalu katakanlah pd saat itu followers mencapai 100rb  dan sumbangan #1 diserakan. Kemudian salah satu follower lama memutuskan untuk unfollow account tsb (shg membuat followers count menjadi 99rb). Namun kemudian muncul org baru yg memutuskan untuk follow account tsb (shg followers count kembali menjadi 100rb). Jika melihat dari followers count yg tetap, tentunya keberadaan follower baru ini tadi tidak dihitung, padahal seharusnya dia berhak dihargai 25 IDR!

Forget the nominal stuffs. Yang jadi concern utama saya sebenarnya bukan masalah 25 IDR ini. Tapi saya mencium adanya strategi marketing dibalik kedok bentuan bencana alam ini. Bukan sesuatu yang tidak mungkin kan jika suatu saat nanti account twitter tersebut berganti username lalu menjadikannya sebagai account untuk mempromosikan sesuatu pada followernya yang jumlahnya sudah menumpuk itu (Fyi, ini dinamakan e-marketing). Dan sekali lagi, kedok sosial dibalik tujuan komersil. Saya benar2 tidak menyukai hal seperti ini. Dan terkutuklah pihak yang melakukan hal seperti ini. Saya sendiri berharap semoga pikiran ini salah dan semoga niat followers nya benar2 dihargai dan tidak dimanfaatkan.

Gunakanlah social networking sebijak mungkin untuk berbagi informasi dan saling bertukar pikiran. Semoga pihak yang mencoba mengambil keuntungan dari bencana yang sedang terjadi ini mendapat bencana yang lebih buruk dari yang sekarang terjadi. Amin.

Advertisements

One thought on “Pray for Indonesia and please don’t take advantages of our sadness!

  1. setuju banget mba..
    saya juga mau ngangkat artikel tentang itu..
    tapi masih cari tau lebih lanjut..
    sekarang ada lagi nih @prayf_indonesia
    memang acc nya bukan atas nama pribadi.
    tapi webnya http://www.prayforindonesia.com/PFI/Welcome.html sampai saat ini belum juga bisa di akses..
    kita kan jadi mau tau, uang darimana donasi dia ini?
    soalnya per followers di hargai 1000 rupiah..

    mohon kerjasamanya.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s