Stop blaming and tell me what you’ve did.

Adanya buku “Bencana Bersama SBY” ini tentunya sudah terdengar di telinga kita semua. Sebuah buku yang cukup brilliant sesungguhnya. Yeah, sangat brilliant hingga membuat saya berpikir “Si penulis ini pasti mendapat nilai 100 pada mata pelajaran IPS (Geografi) atau Ilmu Bumi dulu.”

Saya memang belum membaca buku ini (dan tentunya saya tidak berminat untuk membacanya pula :P), tapi dari judul dan sinopsis yang telah saya baca, saya cukup tergelak. Bagaimana bisa seseorang dalam suatu jabatan tertentu dapat menentukan dan menyebabkan terjadi atau tidaknya suatu bencana? Apakah suatu jabatan tertentu tsb dapat mengontrol bagaimana alam harus bersikap?

Seingat saya, saya dulu pernah diajarkan tentang beberapa penyebab terjadinya bencana alam saat saya masih duduk di bangku sekolah dan mengenyam mata pelajaran IPS. Geografi saya cukup buruk, jadi saya meminta maaf dan mohon dikoreksi apabila ada yang salah.

Gempa dapat terjadi karena terjadi gesekan kerak bumi. Gesekan kerak bumi tsb sebenarnya lazim dan cukup sering terjadi, hanya saja ketika nilai gesekannya tersebut melebihi dari toleransi normal, maka dapat dikatakan sebagai gempa. Gesekan itu sendiri biasanya terjadi karena aktifitas yang ada di permukaan bumi tersebut. Dan ketika beban yang diberikan tersebut dianggap berlebih, gempa tsb terkadang bisa terjadi. Ok, katakanlah salah satu pembeban itu adalah kepadatan penduduk. Lalu apakah hanya salah satu orang sehingga jumlah penduduk di tempat tsb dianggap terlalu padat? Akuilah, itu kesalahan masing2 pribadi yang tidak membantu program KB pemerintah dengan cukup memiliki 2 orang anak saja.

Sementara tsunami terjadi karena gempa dari bawah laut (saya lupa apa penyebab gempa bawah laut ini, kalau tidak salah bisa karena letusan gunung bawah laut) yang akhirnya membuat permukaan air laut menjadi naik secara tiba2 dan akhirnya menyebabkan gelombang yang cukup besar dan menyapu daratan yang berada paling dekat dengannya. Lalu mampukah seseorang pada jabatan tertentu yang menyebabkan gelombang air laut tersebut mengamuk?

Gunung api meletus karena memang magma di perut bumi ditekan keluar oleh gas dari dalam gunung api tersebut. Lalu apakah ada orang yang sengaja meninggikan kadar tekanan gas dr gunung api tersebut agar kemudian magma di perut bumi tersebut mendesak keluar dan menyebabkan gunung tersebut meletus dan mengeluarkan lahar panas?

Banjir terjadi karena air tidak dapat mengalir kemana dia seharusnya mengalir. Hingga akhirnya menggenangi jalan dan perlahan memasukin rumah dan terciptalah banjir itu. Tidakkah kalian ingat jika pohon dan tanah berperan dalam membantu menyerap air yang tidak mampu mengalir ke tempat yang seharusnya tersebut? Namun pohon ditebang dan tidak lagi ada penghijauan yang cukup untuk menggantikannya. Dan bukankah kalian masih membuang sampah sembarangan hingga akhirnya membuat saluran air menjadi mampet? Lalu mengapa kalian semua marah hanya pada satu orang akan terjadinya banjir tersebut, jika pada dasarnya kalian sendiri turut andil dalam menyukseskan terjadinya banjir tersebut? Mungkin memang seharusnya tata kota mampu mengatur dan mengatisipasinya, namun bukankah tindakan itu sendiri perlu diberantas lebih dulu? Karena jika tidak, SDA tata kota itu sendiri pun nantinya akan datang dari orang2 seperti itu dan tidak akan dapat terbentuk tata kota yang manis yang dapat menanggulangi banjir.

So, the point is Get real, people! Don’t blame someone else for all of this sadness. All of us do bad things and mess up with the environment. So, stop it for a better life. For our future.

Seingat saya, dalam menulis atau membuat sebuah buku pun dibutuhkan sumber yang mendukung informasi yang atau pendapat yang dituturkannya. Serta dibutuhkan suatu latar belakang yang cukup logis untuk mendasari pemikiran dalam bukunya tersebut. Lalu apa kira2 yang menjadi sumber serta latar belakang si penulis ini? Apakah hanya sebuah list bencana alam yang terjadi selama beberapa tahun belakangan ini? Lalu bagaimana hal tersebut dapat dikaitkan dengan jabatan seseorang? Apakah menurutnya orang tersebut telah melakukan semacam ‘Abrakadabra’ dan ‘Alakazam’ untuk menciptakan kekacauan dan bencana yang terjadi beberapa tahun belakangan ini? Oh, c’mon. Dipikir dari sisi logis dan realistis mana pun saya rasa tidak ada hubungannya. Hal-hal semacam ini lah yang terkadang membodohi masyarakat awam yang masih percaya dengan hal-hal mistis dan sihir hingga akhirnya sistem yg sudah kacau ini menjadi semakin kacau lagi.

NB: Membuat berita yang sensional dan provokatifย seperti ini sudah semakin mendarah daging di kalangan jurnalis. Saya harap jurnalis berita sekarang menguranginya dan kembali mengusung gaya menulis berita yang benar2 berita, bukan hanya sekedar mencari sensasi. Well, mungkin memang bukan murni kesalahan jurnalis. Tapi editor dan pihak lainnya juga perlu memperhatikannya lagi. Thanks. Hidup jurnalis Indonesia! ๐Ÿ˜€

Advertisements

3 thoughts on “Stop blaming and tell me what you’ve did.

  1. wah setuju aku…. i love your word….
    ya itu lah manusia… mereka cenderung tidak mau dipersalahkan atas apa yang terjadi, tetapi mereka malah mencari kambing hitam atas kesahannya sendiri…

    Salam kenal dari Loewyi. ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s