Untuk 1 Nyawa yang “Bersalah” atau..

Akhir-akhir ini berita tentang TKI/TKW dan embel-embelnya (baca: penyiksaan, hukuman mati, bunuh diri, etc) mulai kembali ramai di media karena adanya salah satu TKW yang dieksekusi di Arab karena membunuh majikannya. Yah, karena keluarga korban menolak memaafkan, maka hukuman pancung akhirnya dijalankan. Namun, kalaupun keluarga korban memaafkan masih ada sejumlah uang yang harus dibayarkan sebagai ganti rugi yang besarnya kira-kira sejumlah 3M lebih. Lalu bersamaan dengan itu pula muncul berbagai berita tentang jumlah TKW/TKI yang “bermasalah” di luar sana.

Jujur, sebenarnya saya kurang suka dengan berita-berita semacam ini. Terutama dengan berita yang meminta pemerintah untuk membayarkan “ganti rugi” hukuman para TKW/TKI yang bersalah itu. Kenapa pemerintah harus menebus kriminal? Apa memang bentukan moral negara kita itu kriminal memang harus dibantu?

Oke, mari kita mundur sebentar. Everything happens for a reason, right?

TKW kita pasti punya alasan tertentu mengapa dia bisa sampai “kelepasan” membunuh majikannya sendiri, kecuali kalo dia emang psycho sih. Psycho kan bisa membunuh tanpa perlu alesan yang jelas 😛

Nah, mulai oot deh. Balik ke topic. Banyak faktor sih ya yang bisa jadi alesan pemicunya untuk membunuh. Yang jelas sih TKW itu tertekan. Kalo ga salah, dia sering disiksa dan dia ga dibayar ya? Well, tolong koreksi saya buat ini ya 😀

Sekarang katakanlah TKW kita membunuh karena tidak tahan disiksa oleh majikannya. Nah, apa majikannya ini tadi juga tidak punya alasan mengapa dia menyiksa? Sekali lagi, orang yang masih di batas normal pasti punya alasan untuk melakukan sesuatu, terutama untuk menyakiti orang lain.

Saya punya satu skenario yang kira-kira mungkin bisa terjadi disana dan termasuk “penyiksaan”.

Si majikan memang sedang banyak masalah, dan sumpek. Dan kesalahan kecil macam apa pun mampu mengundang emosinya. Disaat seperti itu TKW/TKI ini sukses melakukan suatu kebodohan, ceroboh lah (setiap orang pasti pernah kan? :D). Namun sayangnya, kecerobohannya tadi ini membuat emosi majikannya yang memang sudah di ubun-ubun itu tersulut dan akhirnya dia menumpahkan semua kekesalannya kepada TKW/TKI ini dalam bentuk “siksaan”. Inget, sebagian besar orang di Arab menganggap pembantu itu budak yang bisa mereka apakan saja sesuka mereka karena mereka telah membayar sejumlah uang (yang cukup besar) kepada agency TKW/TKI tadi. Sangat make sense kan skenario ini?

Sekarang kita pikir lah ya. Kalo memang itu suatu kecerobohan biasa, tentunya “siksaan” itu tak akan sering kan? Karena kecerobohan biasa tidak mungkin selalu terjadi. Nah, kalau selalu terjadi bukankah itu artinya TKW/TKI ini tadi tidak becus dalam menjalankan pekerjaannya? Kita sekarang berkaca pada diri sendiri. Kita sendiri pasti akan marah dan emosi kan jika telah mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk memperkerjakan seseorang, namun ternyata dia tidak becus melakukannya? Kita sebagai bangsa yang terkenal ramah saja bisa emosi, apalagi bangsa lain? 😉

Mungkin ada yang berfikiran “Mereka sudah boleh berangkat oleh agency kan artinya mereka sudah mampu untuk bekerja”. Memang pada dasarnya sebelum dikirim TKW/TKI ini tentunya dites terlebih dahulu apakah mereka sudah layak dan sudah siap bekerja atau belum. Namun sayangnya, TKW/TKI ini tadi bisa membayarkan sejumlah uang (kira-kira 300k-500k IDR) untuk dianggap lulus dan layak sehingga dia bisa segera berangkat sebagai TKW/TKI. Jadi bukan tidak mungkin kalau TKW/TKI yang dikirim ke negara2 sana sini itu sebenarnya tidak mampu melakukan pekerjaan rumah dengan benar.

Oh iya, jangan berpikiran mereka ga sanggup ngebayar 300k-500k itu tadi buat lolos ya. Buat jadi TKW/TKI itu ada yang perlu setor sejumlah uang dulu. Ada juga yang sistemnya gaji mereka selama bbrp bulan diambil oleh agency nya sebagai ganti rugi total. Saya tau karena dekat rumah saya ada penyalur TKW/TKI dan dulu saya sempat mendengar ceritanya.

Nah, jadi sebenarnya TKW/TKI yang “dikasihani” karena disiksa itu tidak terlalu layak untuk dikasihani bukan? Lagipula, mereka sudah sering mendengar issue resiko sebagai TKW/TKI. Seharusnya mereka sudah tahu resiko yang akan mereka hadapi. Bukan jadi seperti sekarang ini 🙂

Menurut saya, tuntutan media dan orang-orang untuk membantu menebus TKW/TKI yang diproses hukum di negara2 lain itu terlalu berlebihan. Menghamburkan uang yang tidak sedikit hanya untuk seorang kriminal? Oh, uang tersebut tentu lebih bermanfaat untuk hal lain!

Hal lain seperti apa?

Sekarang kita sebut saja untuk membebaskan seorang TKW/TKI kriminal itu tadi butuh 3M. Uang 3M ditukar untuk 1 orang nyawa yang bersalah. Bukankah lebih bagus jika uang 3M itu tadi dialihkan untuk membangun penampungan bagi fakir miskin dan anak terlantar?

Fakir miskin itu ditampung dan dilatih/diberi skill jadi nantinya dia mampu untuk mengurus dirinya sendiri dan tidak lagi menjadi sampah masyarakat. Sementara anak-anak terlantar itu disekolahkan. Tak perlu sekolah yang harus di satu institusional tertentu. Cukup bikin sekolah kecil di tempat penampungan itu tadi.

Dengan dibuatnya tempat penampungan itu tadi, setidaknya beberapa masalah dapat terselesaikan. Kota menjadi bersih dari yang disebut “sampah masyarakat” dan selain itu tempat penampungan itu menjadi satu lapangan pekerjaan baru juga. Dan disini uang 3M tadi bermanfaat tidak hanya untuk 1 orang 😀

Oh iya, sebenarnya pemerintah juga punya anggaran untuk TKW/TKI kira-kira sekitar 100M. Mungkin ada yang berfikir lebih baik memanfaatkan anggaran tersebut untuk membebaskan TKW/TKI yang bermasalah daripada nantinya uang tersebut entah masuk kantong mana dan kantong siapa.

Menurut saya sih, tetap saja lebih baik uang tersebut dialokasikan untuk membantu TKW/TKI yang tidak bisa pulang ke Indonesia lagi, atau memulangkan TKW/TKI yang ternyata dikirim secara ilegal tanpa mereka sadari. Bisa juga untuk membantu pengobatan TKW/TKI yang disiksa. Banyak loh TKW/TKI kita diluar sana yang lebih butuh bantuan daripada TKW/TKI yang melanggar hukum ini 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Untuk 1 Nyawa yang “Bersalah” atau..

  1. Saya tau karena dekat rumah saya ada penyalur TKW/TKI dan dulu saya sempat mendengar ceritanya.–>tak kiro km yo mau ikut daftar chel..hahaii…

  2. Argumentasi yang menarik dan lugas. Ada isu tentang TKI: 1. Tentang TKI itu sendiri. 2. Tentang kehadiran negara dalam persoalan TKI. Berkaitan dengan isu pertama, argumentasimu bisa diterima. Dalam isu kedua, ini yang menurutku banyak pihak yang merasa kaget atau terkejut atas kasus tersebut dan mempengaruhi cara pandang terhadap isu pertama

    1. Iya sih. Issue kedua ini yang lebih banyak disorot dan diangkat 😀
      Btw, makasih udah mau mampir 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s