Tetap Jagalah Meskipun Tidak Akan Pernah Menjadi 100% Nilainya. :)

Ada yang bilang kesehatan itu mahal harganya. Yah, memang benar. Ketika kita sehat kita mungkin tidak akan pernah menyadari betapa berharganya kesehatan yang kita miliki ini. Dimana jauh disana ada orang-orang yang mengharapkan untuk menjadi sehat seperti kita dengan menghabiskan seluruh materi yang dia miliki. Tapi ketika kita sakit kita pasti akan merasakan betapa kita merindukan kesehatan yang kita miliki.

Ketika sakit secara fisik saja kita mengeluhkan banyak hal mulai dari ketidak nyamanan fisik yang kita alami, hingga biaya berobat yang harus kita keluarkan. Dan pada saat itu kita masih saja menggerutu, tanpa mensyukuri nikmat kesehatan jiwa yang masih kita miliki. Memang sih, secara psikologi tidak ada orang yang 100% sehat kejiwaannya. Namun saya rasa ada nilai-nilai toleransi untuk tiap penimpangan kejiwaan yang ada sebagai parameter dimana seseorang bisa dianggap sehata tau tidak kondisi kejiwaannya. CMIIW. 😀

Menurut saya, kesehatan jiwa adalah kesehatan yang paling mahal harganya. Kenapa? Karena ketika fisik kita sakit pun, kita masih memiliki sistem imun yang mampu membantu kita untuk kembali menjadi sehat tanpa bantuan obat-obatan. Yah, meski memang membutuhkan waktu pemulihan yang relatif lebih lama dibanding jika kita mengkonsumsi obat. Tapi jika satu kali saja jiwa kita sakit, maka saya rasa dari dalam diri kita sendiri tidak akan mampu mengobatinya.

Segala sesuatu yang kita lakukan dikendalikan oleh otak. Maka bayangkan saja bagaimana jika otak kita pun tidak mampu membantu kita untuk mengatur dan mengendalikan apa yang kita lakukan. Bukan tidak mungkin apa yang kita lakukan dapat menyakiti diri kita sendiri, atau bahkan orang lain.

Dan demi melindungi diri kita dan juga orang lain di sekitar kita dari diri kita sendiri (!), kita membutuhkan bantuan dari orang lain. Sakit kejiwaan yang cenderung ringan, seperti stress atau depresi ringan, mungkin masih bisa dibantu oleh orang-orang terdekat layaknya keluarga atau teman. Namun, jika sudah termasuk berat, tentunya butuh ditangani oleh orang-orang yang memang berkarir di bidang itu (institutionalizing).

Sayangnya, biaya institutionalize tersebut tidaklah murah. Sehingga tidak jarang ketika hal tersebut dialami oleh orang-orang dengan tingkat ekonomi yang tergolong rendah, jalan keluarnya adalah dengan pemasungan. Karena dengan pemasungan ini diharapkan dapat melindungi orang-orang disekitarnya dari “ledakan” yang mampu diciptakannya. Selain itu, karena pemasungan itu biasanya dilakukan di dalam rumah (atau bahkan mungkin semacam gudang yang terpisah dari rumah utama) terkadang pemasungan dilakukan karena keluarganya malu karena memiliki anggota keluarga dengan keadaan jiwa yang terganggu. Padahal sesungguhnya pemasungan pun tidak menghindarkan dia dari dirinya sendiri. Masih ada kemungkinan dia menyakiti dirinya sendiri. Namun entahlah, mungkin hal tersebut sedikit diabaikan.

Jangankan untuk jenis kejiwaan yang berat, untuk kasus kejiwaan yang ringan pun tak jarang kita harus mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk mengobatinya. Pernahkah kita menghitung berapa banyak uang yang kita keluarkan hanya untuk menyegearkan kembali pikiran kita dari stress atau tekanan yang kita dapatkan dari pekerjaan, keluarga, atau yang lainnya? 🙂

 
*institutionalizing: diserahkan ke Rumah Sakit Jiwa.

Advertisements

4 thoughts on “Tetap Jagalah Meskipun Tidak Akan Pernah Menjadi 100% Nilainya. :)

  1. Kalau kesehatan jiwa,tolak ukurnya apa ya? buat saya sih,duduk depan komputer, tinkering,and OCing udah refreshing. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s