Pola Pikir yang Membunuh

Entrepreneur.

Akhir-akhir ini kata itu semakin sering muncul di telinga kita. Namun sesungguhnya itu bukanlah hal baru. Kalo orang jaman dulu sih bilangnya wirausaha.

Mencetak seorang entrepreneur tidaklah mudah. Mental generasi muda saat ini kebanyakan masih banyak berpikir untuk bekerja pada corporate besar, lalu melompat pada corporate besar lainnya yang menawarkan jumlah gaji yang lebih besar and so on. Mungkin memang sempat terpikir bagi mereka untuk membuat sebuah perusahaan kecil milik mereka sendiri, namun tak jarang pula hal itu hanya menjadi sebuah pemikiran yang kemudian terkubur bersama berbagai alasan yang berputar dalam pikiran mereka sendiri tanpa mereka benar-benar berusaha mewujudkannya.

Tapi sebenarnya masalah utama mengapa susah untuk menemukan atau mencetak seorang entrepreneur sebenarnya dikarenakan oleh lingkungan sekitar kita.

Poin yang paling umum adalah orang sekitar kita yang berpengaruh, seperti orang tua, guru, dosen, dll, secara tidak sadar terus menerus menggambarkan kesuksesan itu adalah dengan bekerja pada corporate raksasa yang kemudian didukung dengan kemampuan untuk memiliki mobil, rumah, dan sebagainya. Sementara keinginan untuk memiliki usaha sendiri sering dipatahkan dengan alasan kebangkrutan. Kita tidak diberi kepercayaan diri yang cukup untuk menjadi sukses dengan usaha kita sendiri.

Selain itu, pematah semangat selanjutnya adalah dari masyarakat ketika kita benar-benar memulai untuk menjalankan usaha kita tersebut. Perusahaan-perusahaan yang cukup terkenal namun tidak cukup memiliki pamor saja dipandang sebelah mata oleh mereka, apalagi yang masih baru dan belum pernah mereka dengar sama sekali. Mereka sudah berpikir kita bukan orang penting dan meremehkan kemampuan kita. Mereka menganggap nama besar sebuah perusahaan mencerminkan betapa besar kualitas orang yang berada di dalamnya. Padahal sebenarnya tidak jarang orang-orang yang berlindung dan terlalu membanggakan “brand” yang tertempel di kartu namanya itu lebih berotak udang dari orang-orang di perusahaan kecil tadi.

Tidak cukup hanya sampai meremehkan, tapi juga masyarakat cenderung tidak memberi cukup kesempatan pada perusahaan kecil yang baru ini tadi. Bukan tidak mungkin omongan kita tidak akan dianggap atau malah mungkin langsung mendapat respon buruk ketika kita mengenalkan diri bahwa kita berasal dari sebuah perusahaan yang sebelumnya tidak pernah mereka dengar.

Lalu jika terus-menerus diremehkan dan tidak diberi kesempatan, bagaimana kita bisa menunjukan kemampuan kita? Bagaimana bisa kita berkembang? Secara tidak langsung, pola pikir masyarakat yang seperti inilah yang membunuh berkembangnya perusahaan-perusahaan kecil hingga akhirnya mereka menjadi bangkrut. Pola pikir ini pula yang membuat corporate raksasa semakin menggemuk dan akhirnya membenarkan perkataan bahwa bekerja pada corporate besar itu sebuah kesuksesan yang seharusnya dicapai.

Advertisements

One thought on “Pola Pikir yang Membunuh

  1. Budaya mengapreasi memang sangat kurang di sekitar kita. Maka dari itu, yuk kita mulai belajar mengapresiasi sekecil apapun prestasi teman kita, btw, tulisannya bagus 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s