Jelajah Negeri Tembakau

“A cigarette is a pipe with a fire at one end and a fool at the other.” (Unknown)

Para aktivis anti tembakau tentunya sangat setuju dengan kutipan diatas. Dengan pandangan jijik, mereka menganggap semua perokok adalah makhluk tolol yang senang merusak kesehatan mereka sendiri. Dan perusahaan rokok adalah kapitalis paling jahanam yang memeras dan menipu petani tembakau tanpa memberikan imbalan yang layak.

Tapi benarkah demikian?

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada tanggal 3 Oktober 2015 yang diperingati oleh komunitas tembakau sebagai #HariKretek, saya dan rekan-rekan blogger mendapat kesempatan untuk berkunjung ke gudang PT. Djarum dan juga bercengkrama bersama petani tembakau di dusun Paok Rengge, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Menariknya, ternyata kunjungan kami bertepatan dengan musim panen tembakau. Ini artinya akan ada banyak cerita yang bisa kami dapatkan!

Benar saja, kedatangan kami di gudang PT Djarum disambut dengan suasana ramainya warga yang berderet dengan berbagai bungkusan besar di dekatnya. Ada juga beberapa orang yang menurunkan bungkusan-bungkusan yang sama besarnya dari dalam truk. Saat kami hampiri, bau khas tembakau yang sangat menusuk pun tercium. Ah, rupanya mereka sedang menjual hasil panennya pada PT. Djarum.

Saya berhenti sejenak di dekat pintu masuk gudang, dimana hanya boleh ada satu atau dua petani saja yang turut masuk bersama bungkusan yang dibawanya. Disana, bungkusan tembakau tadi mengalami proses grading, proses penilaian kualitas tembakau. Ada beragam grade tembakau yang ada, dan standart dari setiap perusahaan ternyata berbeda. Sebagai contoh, PT. Djarum menganggap tembakau terbaik berasal dari jenis daun tengah, sehingga mereka menawarkan harga yang lebih tinggi dibandingkan jenis daun pucuk. Namun ada perusahaan rokok lain yang memberikan harga tinggi untuk jenis daun pucuk.

Proses grading awal tadi hanya menilai secara sekilas. Setelahnya, bungkusan tersebut dibongkar lalu disortir kembali kualitasnya oleh pekerja gudang. Hal ini perlu dilakukan karena tidak jarang ada petani ‘nakal’ yang menyelipkan tembakau berkualitas rendah ke dalam bungkusan tembakau berkualitas baik. Sehingga, sortasi kualitas tembakau itu sendiri pun dilakukan berkali-kali sebelum akhirnya dikeringkan di oven besar dengan suhu tertentu. Tujuannya tidak lain untuk menghasilkan kelompok tembakau berkualitas yang dijadikan bahan baku rokok premium dan sisanya sebagai rokok low-class.

Kami pun mencoba berbincang dengan beberapa pegawai gudang, namun sayangnya kami terkendala masalah bahasa. Sedikit sekali dari mereka yang berbahasa Indonesia. Saya pun bertanya-tanya, bukankah di bangku sekolah dasar kita sudah diajarkan untuk menggunakan bahasa Indonesia? Apakah mereka tidak mengenyam bangku pendidikan? Ah, namun saya simpan sendiri pertanyaan itu. Mempertanyakannya secara langsung tentunya tidak sopan dan akan membuat kami terkesan sebagai orang-kota-sok-berpendidikan.

Informasi yang kami dapatkan pun tidak banyak. Selain bercerita tentang kegiatan mereka menyortir tembakau dalam kelas-kelas tertentu dan berdasarkan panjangnya sedari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, kami juga mendapati jika upah yang diterima setiap harinya hanya sekitar 20 ribu rupiah.

Saat itu saya terdiam, 20 ribu di Surabaya sekarang mungkin hanya cukup untuk makan satu kali saja di warung pinggir jalan yang enak. Bisa dibuat dua kali sehari, jika makan di warung prasmanan sekitar kampus ITS dengan lauk sayuran saja. Tapi bukankah biaya hidup di luar jawa relatif lebih tinggi? Lalu bagaimana mereka bisa menyambung hidup?

Saat itu pula saya merasa aktivis tembakau kekinian itu mungkin ada benarnya. Perusahaan rokok adalah kapitalis pemeras tenaga masyarakat! Ungkapan “Kami peduli dengan nasib petani tembakau” yang sering disuarakan perusahaan rokok itu layaknya angin kentut, berlalu begitu saja dan sangat memuakkan.

***

Konon kabarnya Lombok adalah salah satu lokasi penghasil tembakau terbesar di Indonesia. Dengan keadaan daerahnya yang cukup kering, para petani cukup banyak yang putus asa dalam menanam palawija. Namun semua berubah ketika Negara Tembakau menyerang. Tembakau yang memang membutuhkan tanah yang tidak terlalu banyak mengandung air ini bisa tumbuh subur di Lombok.

Semenjak itu kehidupan warga beranjak membaik, terutama dengan kedatangan perusahaan rokok yang memborong hasil panen tembakau. Tidak tanggung-tanggung, hasil panen tembakau tadi nilainya bisa lebih besar dari total gaji selama setahun kaum-menengah-ngehe-ibukota. Jadi tidak heran jika setelah musim panen tembakau berakhir, maka terbitlah musim umrah dan haji.

Selain menanam tembakau, tidak sedikit dari masyarakat Lombok yang beternak. Hasil ternak itu lah yang menyokong kebutuhan pangan mereka sehari-hari. Sehingga tidak heran jika sedikit diantara mereka yang berpikir untuk makan di warung seperti orang kota yang gak pernah sempet masak.

Sayangnya, melimpahnya sumber penghidupan itu yang membuat anak muda Lombok cenderung bermalas-malasan. Siang hari dihabiskannya berkumpul dengan teman sebayanya. Bukan untuk bekerja, tapi hanya berkumpul tanpa kegiatan yang jelas.

Hal itu menimbulkan keprihatinan bagi orang tua mereka. Sebagai jalan tengah, mereka akhirnya “membuang” anaknya ke tanah rantau untuk kuliah. Mereka yang kembali akan dianggap gagal di perantauan. Sisanya, yang menetap di Lombok biasanya diminta untuk bekerja sebagai buruh gudang di perusahaan rokok, atau semacamnya. Tujuannya bukan demi karir dan uang semata, tapi agar mereka memiliki kegiatan yang positif.

Cerita yang dipaparkan oleh masyarakat Lombok diatas akhirnya menjawab berbagai pertanyaan saya sebelumnya. Memang sepertinya susah untuk dipercaya. Terutama jika mengingat betapa sederhananya keadaan Dusun Paok Rengge yang dikelilingi ladang tembakau entah berapa hektar luasnya itu.

Rumah-rumah yang didirikan disana cenderung sederhana. Sederhana tapi nyaman. Jauh dari kata mentereng ala perkotaan. Mungkin bentuk kesederhanaan rumah mereka itu akan dianggap sebagai kere jika berlokasi di perkotaan. Bisa jadi para aktivis anti-tembakau yang kerap menebarkan kebencian pada perusahaan rokok itu pun berpikir demikian saat melihat keadaan rumahnya.

Tapi sebenernya siapa sangka, pemilik rumah penuh kesederhanaan di Dusun Paok Rengge yang kami singgahi itu mampu menyekolahkan anaknya di Fakultas Kedokteran di pulau Jawa. Kita tahu sendiri, biaya kuliah di Fakultas Kedokteran tidak sedikit. Bahkan kaum-menengah-ngehe yang selalu mengenakan pakaian ber-merek itu belum tentu mampu membiayai anak mereka untuk kuliah disana nantinya.

Sayangnya, perkembangan pendapatan warga tadi tidak diimbangi dengan perkembangan tingkat edukasinya. Mereka yang berkembang kebanyakan adalah mereka yang merantau. Sisanya yang menetap akhirnya tidak banyak memperoleh bekal pengembangan diri.

Akibatnya, masyarakat Lombok banyak yang mengidap sindrom OKB (Orang Kaya Baru) setiap kali musim panennya berhasil. Pendapatannya dihabiskan tanpa memperhitungkan kemungkinan buruk lainnya yang mungkin menghadang di depan. Artinya, mereka akhirnya tidak siap ketika harus merugi.

Seperti contohnya pada tahun 2011, dimana tingginya curah hujan membuat harga tembakau menjadi terjun bebas. Perusahaan rokok manapun terpaksa membeli dengan harga murah karena kualitas tembakaunya sendiri yang kurang memuaskan. Akhirnya secara tidak langsung ini memberikan efek yang kurang baik bagi para petani tembakau. Banyak diantaranya yang merugi dan putus asa, hingga akhirnya memutuskan untuk merantau ke negera seberang. Mengadu nasib menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia).

Hal-hal seperti tadi tentunya tidak perlu terjadi seandainya mereka pernah dibekali tentang bagaimana me-manage hasil panen dan pengeluaran mereka.

Sebagai contohnya adalah orang tua kawan saya di Sumenep, Madura. Beliau merupakan satu diantara sekian petani tembakau yang ada disana. Kebetulan beberapa tahun yang lalu saya mendapat kesempatan berbincang sejenak dengan beliau terkait tembakau. Menariknya, pada saat musim panen beliau tidak menjual seluruh hasil panen. Disisihkannya sebagian dengan alasan untuk dijual kembali saat nilai tembakau mendadak meninggi.

Menurut beliau, cara tersebut sangat efektif untuk menambah pemasukan. Terutama jika tiba-tiba mengalami gagal panen. Setidaknya masih ada cadangan tembakau untuk menyambung hidup sampai musim tanam selanjutnya. Apalagi semakin lama masa tembakau, bisa semakin tinggi pula harganya. Asalkan lamanya tidak lebih dari 5 tahun agar citarasanya masih tetap terjaga.

Edukasi seperti inilah yang sebenarnya lebih banyak dibutuhkan oleh para petani tembakau di Lombok. Sehingga tidak perlu ada lagi diantara mereka yang akhirnya merasa dipermainkan oleh perusahaan rokok.

Dan bagi para aktivis anti tembakau yang menganggap perusahaan rokok adalah kapitalis pemerah tenaga petani, mbok ya sekarang giliran kalian ngedukasi mereka. Teriak panas-panas itu cuma dibayar pake nasi bungkus murahan. Coba mampir ke Dusun Paok Rengge, ajarin masyarakat sana. Niscaya kalian akan dijamu dengan berbagai kearifan lokal kuliner Lombok yang ciamik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s