Terima Kasih Mojok!

Tepat pada hari ini, 28 Maret 2017, situs mojok.co resmi ditutup dan semua artikelnya tidak bisa diakses. Mungkin para pembaca masih bisa membaca kembali artikel-artikel tersebut melalui situs lain yang mengunggah artikel-artikel yang sempat tayang di mojok.co. Saya sendiri mungkin akan mengunggah beberapa artikel saya yang pernah tayang, tapi tidak semua tentunya.

Bulan lalu, pada 28 Februari 2017, tim Mojok.co dan Mas Puthut EA sendiri sudah mengumumkan pembubaran mojok. Banyak sekali pihak yang ribut dan menyayangkan keputusan tersebut. Saya sendiri sempat diberondong pertanyaan alasan dibalik keputusan bubarnya mojok oleh beberapa orang.

“Kenapa mojok harus tutup?”, pertanyaan itulah yang saya dapatkan sebulan terakhir ini. Saya hanya mampu menggelengkan kepala dan menyampaikan ketidaktahuan saya. Saya memang tidak turut ambil pusing seperti orang lain yang heboh menyayangkan keputusan tersebut. Bukan saya tidak peduli, saya hanya menyangkal berita tersebut. Saya tidak mau percaya bahwasanya Mojok.co akan benar-benar bubar. Sayangnya, hari ini saya HARUS percaya dan menerima kenyataan tersebut.

Saya masih ingat bagaimana pertama kali saya mengenal mojok. Saat itu teman-teman sedang kasak-kusuk membicarakan artikel-artikel mojok, memuji artikel yang tayang. Keriuhan tersebut tidak membuat saya tertarik untuk mengecek halaman mojok. Sampai akhirnya artikel Agus Mulyadi yang meng-asu-asu-kan Anang-Ashanti lah yang mengantarkan saya ke Mojok untuk pertama kalinya.

Saya tergelak membaca keluwesan Agus menumpahkan emosinya dalam meng-asu-kan prosesi sakral Anang-Ashanti. Kemampuan Agus menyampaikan rasa muaknya menjadi satu tulisan yang menggelikan itu sangat saya acungi jempol.

Gaya tulisan tersebut membuat saya teringat blog yang pernah saya tulis dengan rajin ketika kuliah. Saya berusaha memposisikan penderitaan saya sebagai mahasiswi ITS tahun terakhir yang berusaha lulus tepat waktu tampak seperti hal suka-ria mengundang gelak tawa. Saya bisa bilang tujuan saya tersebut berhasil ketika beberapa orang yang baru mengenal saya dan membaca tulisan saya disana berkomentar, “Ternyata kuliah di ITS menyenangkan dan seperti bermain-main ya!”

Tentunya tulisan saya di blog itu tidak sebagus dan se-ciamik gaya menulis Agus Mulyadi tadi. Saya sendiri juga sudah mengalami perubahan gaya menulis, dimana saya sudah hijrah ke blog ini untuk mengomel dan bukan lagi menertawakan keadaan seperti di blog lama.

Selanjutnya, saya mencoba mencari tahu tentang Mojok melalui teman saya semasa kuliah yang pada saat itu aktif di Jogja, Dwimon. Saya bertanya tentang bagaimana Mojok dan penulis mereka. Hasil pembicaraan tersebut kurang lebih sebaiknya saya mencoba mengirim tulisan ke Mojok.

Namun, saya adalah blogger angin-anginan yang lebih suka menghiatuskan diri. Sering kali saya baru menulis ketika ada topik yang menggelitik dan membuat saya kesal. Saya baru menulis artikel pertama untuk mojok ketika ada keriuhan tentang pencalonan ADP menjadi Walikota Surabaya.

Tepat setelah saya mengirim artikel itu, Adit, webmaster mojok menuliskan twit yang sukses membuat saya salting sendiri di depan laptop.

Pada malam itu juga, 7 Maret 2015, saya mendapat surat cinta dari Mojok. Saya sudah besar kepala mengira tulisan saya akan dimuat. Setelah saya baca, ternyata surat cinta tersebut adalah pemberitahuan bahwa Mojok menggelar Pekan Menulis Kota. Saya nyengir, menyadari standard tulisan saya masih jauh tentunya untuk bisa menembus redaksi Mojok.

Tapi apa saya putus asa? Tidak. Pada 12 Maret 2015 saya langsung menjawab tantangan Pekan Menulis Kota dengan mengirimkan artikel tentang Surabaya. Tidak lama, saya dihubungi oleh Mas Bana (Arlian Buana), Pimred Mojok pertama yang bertugas saat itu. Mas Bana mengabarkan bahwa artikel saya akan tayang. Perasaan saya campur aduk, tapi jelas saya senang. Senang karena ternyata tulisan saya bisa menembus dapur Mojok yang terkenal susah, dan senang melihat orang lain terhibur dengan tulisan saya. Pada saat itulah juga pertama kalinya saya merasa tulisan saya dihargai dan diapresiasi.

Harus saya akui, tim Mojok benar-benar memanusiakan penulis dan menghargai karya tulisannya. Mojok tidak membuat penulis merasa sekedar seperti penghasil konten untuk halaman mereka. Mojok membuat penulis amatiran seperti saya merasa mendapatkan keluarga baru.

Bubarnya Mojok bukan hanya kesedihan bagi para pembaca, tapi juga bagi para penulis amatir yang ingin dimanusiakan. Semoga kelak ada yang mampu memanusiakan penulis seperti cara Mojok membuat saya merasa seperti bagian dari keluarga mereka.

Advertisements

One thought on “Terima Kasih Mojok!

  1. Ku penikmat tulisan-tulisanmu do mojok mba. salah satu tulisanmu yang ku ingat, “Mengucapkan kata jancuuk dengan tajwid surabaya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s