Perfect Dream sebagai “Hadiah”

Tulisan ini bukanlah ulasan dari film Perfect Dream.Tulisan ini mengandung spoiler film. Baca dengan risiko sendiri.

Hari ini, 30 Maret 2017, film “Perfect Dream” mulai ditayangkan di bioskop seluruh Indonesia. Film ini sendiri sudah sempat ditayangkan pada Sabtu lalu, 25 Maret 2017, dalam Gala Premiere yang diselenggarakan di Atrium Ciputra World Surabaya. Tidak tanggung-tanggung, pihak Ciputra yang turut mendukung film ini membuka 6 Studio Ciputra World XXI. Keenam studio ini didedikasikan khusus menayangkan film “Perfect Dream” pada pukul 21.15 malam secara cuma-cuma untuk para undangan yang mayoritas adalah selebritis, pengusaha, tokoh penting dan sosialita kota Surabaya. Kebetulan saya, yang tidak termasuk golongan-golongan tersebut, beruntung mendapatkan undangan dan dapat hadir dalam kesempatan itu.

Sebelum kita melanjutkan lebih jauh, harap tonton dan perhatikan baik-baik trailer dari film “Perfect Dream” ini. Dalam trailer-nya disebutkan bahwa film ini terinspirasi dari “true event”. Sayangnya, tidak dijelaskan “true event” apa yang menginspirasi film ini. Dalam press release media pun hanya disebutkan bahwa film ini bercerita tentang kehidupan sosialita.

Tapi apakah benar demikian? 

Menurut saya pribadi, jika mengaitkan kedua aspek tersebut, bisa saja yang dimaksud “true event” ini hanya sekedar “event” charity berupa Fashion show dan sumbangan ke panti asuhan oleh kaum sosialita yang digawangi oleh Lisa (Wulan Guritno), salah satu tokoh utama dalam film ini.

Namun jika sudah menonton dan memperhatikan lebih lanjut, film ini lebih tepat jika disebut tentang perselisihan bisnis dua bos besar di Surabaya, Dibyo (Ferry Salim) dan Hartono (H. Qomar) daripada sekedar “film tentang kehidupan sosialita”. Lisa dan teman-teman sosialitanya hanya mendapat kesempatan muncul beberapa kali dengan rincian kegiatan khas sosialita pada umumnya yang itu itu saja, yakni makan sambil curhat dan charity. Pendalaman karakter dan inti cerita film ini lebih banyak terpusat pada kisah hidup Dibyo dalam usahanya menguasai dunia bisnis di Surabaya. Hal ini tentunya jauh sekali dari publikasi yang menyatakan bahwa film ini menceritakan kehidupan sosialita

Karakter Dibyo sebagai protagonis dalam film ini mampu mengundang perhatian tersendiri. Banyak detail yang disinggung secara implisit yang membuat karakter ini serasa bukan sekedar tokoh fiktif belaka. Contohnya, kelihaian Dibyo mencopet kalung Lisa dan menyebutnya sebagai “kebiasaan lama” menggambarkan betapa kere-nya dia sebelum menjadi pesuruh Marcel Himawan. Juga kecerdikannya yang luar biasa membuat Dibyo yang awalnya hanyalah pesuruh kere bukan siapa-siapa, akhirnya mampu menguasai perusahaan Marcel Himawan, bosnya, melalui pernikahan dengan Lisa, putri tunggal Marcel.

Tak hanya sampai disitu saja. Seperti idiom lama bahwa manusia akan selalu tergoda oleh Harta, Tahta, dan Wanita, begitu pula Dibyo. Setelah berhasil membawa perusahaan Marcel Himawan ke puncak kejayaan, Dibyo masih berusaha merebut bisnis Hartono, salah satu bos besar Surabaya yang menjalankan bisnis ilegal.

Godaan selanjutnya adalah sosok wanita keibuan yang ditunjukkan Rina (Olga Lidya), seorang pengusaha wanita pemilik sebuah galeri foto. Dibyo mulai berpaling dari Lisa dan keluarganya, untuk menjalin hubungan gelap dengan Rina. Hubungan intim antara Dibyo dan Rina akhirnya membuat Rina hamil.

Konflik puncak dari film ini ditunjukan dengan penyerangan anak buah Hartono terhadap Dibyo yang harus segera pergi ke Rumah Sakit mendampingi persalinan Rina. Perjalanan Dibyo terhambat arak-arakan Bonek atas kemenangan Persebaya. Menariknya, Bonek berarak-arakan dari seluruh penghujung jalan, menutup semua akses jalan Dibyo dan mengerubungi mobil yang dikendarainya. Alih-alih turun dari mobil dan berjalan menembus arak-arakan Bonek, Dibyo malah naik ke atap mobil. Sekilas, Dibyo yang berada di atap mobil tampak seakan sedang dielu-elukan Bonek di frame ini.

Setelah turun dari atap mobil, Dibyo berjalan dengan linglung menembus kerumunan Bonek. Sialnya, ternyata satu diantaranya adalah anak buah Hartono yang bersiap membunuh Dibyo menggunakan sebilah pisau. Pisau tersebut ditusukkan tepat di ulu hati Dibyo, membuat nyawanya tak tertolong lagi.

Dengan banyaknya hal-hal simbolis dalam film ini seperti yang saya kutipkan di atas, bisa jadi karakter Dibyo sebenarnya menggambarkan salah satu tokoh penting Surabaya. Bahkan bukan tidak mungkin pembuatan film ini memiliki maksud tersendiri. Terutama jika mengacu pada rentang waktu perencanaan awal dari penggarapan film ini.

Seperti banyak diberitakan media, pengambilan gambar dari film ini baru dimulai pada 26 Agustus 2016. Menariknya, film ini awalnya direncanakan untuk tayang pada November 2016. Rentang waktu yang relatif sangat pendek untuk sebuah film layar lebar komersial. Tidak diketahui apakah keputusan awal tersebut dibuat karena kesalahan dalam memperkirakan waktu pengerjaan atau memang terburu-buru dikarenakan suatu alasan tersendiri.

Pada prosesnya, film ini harus mendapat beberapa revisi dan pemutarannya terpaksa dijadwal ulang untuk tayang pada Januari 2017. Sayangnya, rilis film ini harus mundur lagi karena berbagai alasan hingga diputuskan untuk tayang hari ini, 30 Maret 2017.

Film yang sepenuhnya dibuat di Surabaya ini juga disebut sebagai Hadiah untuk Surabaya. Tapi  masih perlu dipertanyakan apakah film ini benar-benar merupakan Hadiah untuk Surabaya dalam rangka Hari Film Nasional atau “Hadiah” untuk tokoh penting Surabaya yang sosoknya digambarkan dalam film ini. Terutama mengingat jadwal rilis film ini, baik jadwal yang dibatalkan maupun yang akhirnya diselenggarakan bulan ini, dapat dikaitkan dengan rangkaian kejadian penting yang terjadi di Surabaya.

Tulisan ini dibuat berdasarkan pengamatan penulis atas film Perfect Dream dan informasi yang digali dan didapatkan dari sumber yang tersedia untuk publik oleh penulis dan rekannya, Wima.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s